Monday, 25 January 2021

CERITA SEX : ANAK NAKAL SEASON 1 : BAB 8

 Kak Vidia pun kembali ke rumah. Dan Zahir anakku yang masih kecil itu sangat

menggemaskan. Sama seperti Laila yang juga montok. Kak Vidia lebih

mencintaiku lagi. Kami lebih selalu bermanja-manja dengan kehadiran anak kami.

Kami pun menyewa pembantu, namun Bu Isti menawarkan dirinya untuk menjadi

babysitter. Karena kami sudah kenal baik, "tentu saja aku lebih baik lagi

mengenal Bu Isti" maka kami pun mempersilakannya. Setelah bayaran disepakati,

apalagi Bu Isti di rumah juga tak bekerja hanya menjaga Luna.


Sehingga ketika pulang sekolah, Luna langsung bermain dan menjaga anakku. Jadi

punya teman main. Sedangkan aku? Tentu saja harus menggilir istri-istriku yang

lain. Jadi setiap hari tidak di rumah Kak Vidia.


Aku setelah malam dengan Bu ISti itu tidak lagi main dengannya lagi walaupun

sekali. Aneh memang dan Bu Isti sendiri tak pernah mengajakku ataupun aku

mengajaknya. Tapi setiap kali kami bertemu selalu pandangan kami penuh arti.

Mungkin karena memang kita tidak punya kesempatan untuk melakukannya, sebab

Kak Vidia selalu di rumah.


Suatu hari ketika anakku sudah usia 2 bulan dan sudah bisa tengkurap, saat

itulah satu-satunya kesempatanku untuk bisa bertemu dengan Bu Isti dan

satu-satunya kesempatan. Pak Joko sakit. Kerja shift malam membuatnya sakit

paru-paru basah. Ia dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu sampai

kondisinya membaik. Otomatis Bu Isti untuk sementara waktu tak bisa menjadi

baby sitter anakku. Malah istriku yang jadi baby sitter untuk Luna, karena Bu

Isti masih menunggui suaminya di rumah sakit.


Suatu pagi aku akan berangkat ke toko. Saat itulah istriku minta tolong, "Pah,

tolongin Bu Isti ya, berangkat ke rumah sakit, sekalian anterin anaknya ke

sekolah. Kasihan beliau udah banyak nolong kita."


"Oh, iya, ndak masalah," kataku.


Bu Isti pun diberitahu oleh istriku untuk barengan aja. Ia pun tidak menolak.

Sekolah Luna sebenarnya tidak jauh dari komplek. Lima menit saja sudah sampai

dengan mobilku. Kemudian Bu Isti pindah duduk di sebelahku. Saat itulah kami

pun ngobrol.


"Gimana kabarnya bu?" tanyaku.


"Baik-baik saja mas," jawabnya. "Masnya tanya kabar yang mana?"


"Suaminya sekarang sakit, bagaimana pelampiasannya?" tanyaku. Ia pun

mencubitku.


"Masnya ini lho, koq ya ngeres aja. Ntar kubilangin istrinya lho kalau

genit-genit seperti ini," katanya.


Aku mengemudikan mobilku melewati tempat yang agak sepi. "Ya, Bu Isti sendiri

bagaimana perasaannya setelah malam itu?"


Dia menarik nafas panjang. Aku menghentikan mobilku. Jauh dari keramaian.

Kanan kiri kami adalah perkebunan dan sawah. Jalanan ini 500meter ke depan

barulah ada pemukiman.


"Mas, sebenarnya aku agak besalah sama suamiku," katanya. "Tapi, mas juga tak

bisa aku lupakan. Karena tiap hari ketemu. Memang, ada rasa kepengen kalau

ketemu sama mas. Tapi, aku ndak enak sama istri mas."


"Trus, kita bagaimana Bu enaknya sekarang?" tanyaku.


Bu Isti mengusap pipiku. "Ibu masih mecintai suami ibu, tapi apau yang kita

lakukan kemarin, anggap saja sebagai kecelakaan. Ibu menyukainya, saya yakin

kamu juga demikian. Kita kubur saja ini sebagai kenangan. Aku tak enak kepada

istrimu dan menghancurkan rumah tangga kalian. Bagaimana?"


Aku terdiam dan menatap kesungguhan di matanya. Senyumannya menyungging.


"Aku ingin mengajak Ibu ke sebuah tempat, kalau boleh?" kataku.


Bu Isti bertanya, "Tempat apa?"


"Ada aja, boleh ya?" tanyaku.


Bu Isti agak ragu kemudian ia membolehkan. Aku punya tempat istirahat yang

baru saja aku beli setahun lalu. Tempat ini biasanya aku pakai kalau sedang

liburan. Tempatnya ada 1 jam perjalanan. Bu Isti tampak penasaran. Aku

merahasiakan tempat ini sampai kemudian kami sampai.


"Tempat apa ini mas?" tanyanya.


"Ini rumah istirahatku," kataku.


"Kaya' villa," gumamnya. "Ndak ada yang jaga?"


Aku menggeleng. "Tidak ada. Sementara ini tidak ada. Masih kosong, tapi

perabot-perabotannya sudah ada."


"Trus, tujuan kita ke sini buat apa?" tanyanya.


"Karena kita ingin menyudahi semua ini, aku ingin seharian ini kau menjadi

wanitaku," kataku.


"Oh..mas, trus nanti Luna gimana pulang sekolahnya? Aku juga harus menemani

suamiku," katanya.


"Luna kan pulangnya ke rumahku, biasanya juga kan pulang sendiri. Nanti

sebelum sore kita sudah balik kuantar ke rumah sakit. Bagaimana?" tanyaku.


Bu Isti tersenyum. "Terserah deh mas."


Aku kemudian menggandeng tangannya. Kubuka rumah itu. Kuncinya selalu ada di

mobilku. Begitu masuk, aku langsung memanggutnya, Bu Isti pun rasanya sudah

tak tahan lagi. Ia langsung menyambutku. Kami pun melucuti pakaian kami. Aku

langsung masuk ke kamar dan membopongnya ke tempat tidur. Setelah itu kami pun

menghabiskan waktu sebaik-baiknya untuk bercinta. Aku tak menyia-nyiakan

spermaku, kutumpahkan semuanya ke vaginanya. Berbagi gaya kami lakukan dan

setelah itu rasanya tulang kami rontok semua setelah itu.


Tapi kami mengumpulkan tenaga karena harus kembali lagi. Terus terang setelah

bercinta hari itu, kami ada perasaan sedih. Dan komitmen kami adalah tidak

melakukan hal ini lagi setelah ini.


****


Sorenya aku sudah kembali dan mengantarkan Bu Isti ke rumah sakit. Aku pun

memberi alasan bertemu teman, untuk urusan bisnis karena itu tak ke kantor. Bu

Isti pun memberi alasan mampir ke rumah temannya dulu untuk bantu-bantu karena

ada pengajian.


Hari itu aku tak ke mana-mana, langsung pulang ke rumah Nur karena jatah hari

ini ke tempatnya Nur. Aku langsung tidur dan istirahat, karena capek sekali.

Untunglah Nur memijitiku ketika aku tidur, sehingga capekku bisa terobati.


****


Hari minggu, aku ke mall. Karena saat itu sedang ada tamu artis, mall sangat

ramai. Para muda-mudi sudah standby di depan panggung dan menunggu artis

pujaannya. Kalau aku sih cuma belanja aja. Aku ke mall bersama bunda. Perutnya

sudah besar, mungkin bulan depan udah lahiran. Kami belanja untuk kebutuhan

bayi.


"Capek sekali bunda pah," kata bunda kepadaku.


Aku melihat ke sebuah stand pijat. "Mau pijit dulu bunda? Mumpung ada tuh."


"Ide bagus, istirahat dulu ya pah. Papah jalan-jalan dulu deh beli kebutuhan,

nanti temui bunda lagi di sini," katanya.


Aku pun mengantarkan bunda ke tempat pijit itu. Tempat pijat itu memakai kursi

pijat dan tampaknya sedang antri dari 5 kursi, masih dipakai. Bunda tak

masalah, karena memang ia sudah capek berjalan. Aku pun pamit dulu untuk

belanja.


Aku pun berjalan-jalan berbelanja sendiri. Saat itu aku melintasi sebuah stand

kosmetik. Aku sepertinya kenal dengan seseorang.


"Lho, mbak Erna?" sapaku.


"Eh, pak Doni. Apa kabar pak?" sapanya balik.


Ia adalah tetanggaku di rumahnya Kak Vidia. Saat itulah aku cukup cuci mata

dengannya. Ia pakai rok pendek, setengah paha, ia memakai blazer, dan stocking

berwarna hitam. Rambutnya sebahu, bibirnya cukup sensual dan ia tersenyum

manis kepadaku.


"Sama siapa pak? Koq sendirian?" tanyanya.


"Sama istri, masih di stand pijat. Ini sedang belanja buat si kecil," kataku.


"Oh, begitu. Ndak nyoba kosmetiknya pak? Buat nyonya?" tanyanya.


"Boleh deh, coba apa aja yang ada?" tanyaku.


Kemudian Erna menjelaskan segala hal tentang produknya. Bahkan aku pun disuruh

untuk mencoba pelembabnya. Kami juga kadang sesekali bercanda.


"Gimana pak? Mau beli?" tanyanya.


"Wah, gimana ya?" aku bingung juga. Namun aku teringat tentang SPG-SPG yang

gatel dan bisa diajak kencan. Apa mungkin Erna tetanggaku ini mau? Tapi kucoba

aja deh, namanya juga iseng.


"Mumpung ada promo lho pak?" katanya.


"Aku bisa saja sih beli, tapi mungkin ada tambahannya," kataku sambil

tersenyum.


"Tambahan apa?" tanyanya.


"Aku ingin membayar lebih, itu kalau kamu mau sih," jawabku.


Erna penasaran, "Bayar lebih gimana sih pak?"


"Mungkin dengan kita kencan gitu," kataku dengan suara hampir tak terdengar.


"Ih, bapak genit. Kubilang ke istrinya tahu rasa lho," katanya.


"Yah, ini beneran koq. Aku bisa beli beberapa produkmu. Kamu untung dan

tentunya aku juga untung. Toh kita tak ada ruginya. Gimana?"


Erna menggigit bibirnya, "Gimana ya...?"


"Udah berapa lama kamu di sini? Daripada ndak laku lho. Kalau setuju besok

kita ketemuan di sini jam seginian," kataku.


Erna tak menjawab. Aku pun lalu berjalan meninggalkannya. Jual mahal dikitlah.


"Pak, pak tunggu!" panggil Erna.


Aku pun berhenti, lalu menoleh kepadanya.


"I...iya deh, beneran lho ya borong semua," katanya.


Aku mengangguk. "Kamu tahu nomor teleponku kan?"


Ia menggeleng. Kemudian aku memberikan nomor ponselku. Dan aku melanjutkan

berbelanja lagi. Aku meninggalkan Erna dengan wajah yang menerawang jauh.

Entah apa yang ada di pikirannya. Setelah berbelanja aku kembali ke tempat

bunda. Ia sudah selesai ternyata dan kami pun pulang.


Esok sorenya. Sesuai janjiku aku menunggu Erna di tempat parkir. Ia pun

menelponku.


"Bapak di mana?" tanyanya di ponsel.


"Di tempat parkir. Turun aja aku ada di pintu deket tangga koq," kataku.


Tak berapa lama kemudian ia muncul. Kali ini bajunya agak lain. Masih pakai

blazer dan rok mini tapi warnanya merah. Dan ia tak pakai stocking.


"Bagaimana suamimu?" tanyaku.


"Aku udah ijin koq, nginap di rumah temen," jawabnya.


"Kalau kamu tidak mau atau berubah pikiran, sekarang saja. Sebab aku tak mau

ketika di tengah jalan nanti kamu berubah pikiran," kataku.


Ia menggeleng. "Aku siap koq pak."


"Ok, ayo!" aku pun mengajaknya ke mobilku. Di dalam mobil aku mencoba untuk

meraba tangannya. Ia tak menolak. Bahkan tersenyum kepadaku.


"Kau sudah pernah seperti ini sebelumnya?" tanyaku.


"Sejujurnya, ini yang pertama pak," jawabnya.


"Yang bener? Trus kenapa koq mau?" tanyaku.


"Lagi kepepet pak," katanya.


"Panggil saja mas, saya masih belum 30 tahun koq," kataku.


"I..iya pak, eh mas..," katanya.


Aku memancingnya lagi, "Sekarang kita sudah masuk mobil. Kalau misalnya engkau

berubah pikiran tidak mengapa."


Ia menggeleng. "Tidak apa-apa mas."


Aku pun kemudian mendekat kepadanya, ku sentuh wajahnya, kemudian aku tarik

kepalanya untuk mendekat kepadaku. Bibirku pun maju menyentuh bibirnya. Aku

kemudian menghisap bibirnya, mulutnya sedikit terbuka dan menerima lidahku

masuk ke mulutnya. kami pun saling menghisap. Untuk beberapa saat ciuman itu

membuatku yakin ia sudah siap.


"Aku ingin mengajakmu ke sebuah villa, jangan ke hotel," kataku.


Ia mengangguk, "Terserah saja deh mas."


Mobilku pun melaju meninggalkan kota menuju ke villa. Selama perjalanan, aku

mengusap-usap paha Erna. Ternyata ia tak memakai hotpants. Aku bisa langsung

merasakan celana dalamnya ketika merogoh ke dalam rok mininya. Aku menyetir

mobil dengan tenang, ketika aku tidak mengubah gigi kopling aku kembali

mengusap-usap kemaluannya dari luar celana dalamnya. Erna hanya menggigit

bibir saja kuperlakukan seperti itu. Terkadang ia bermain ponselnya mencoba

menahan rangsangan yang aku lakukan. Tapi sepertinya percuma, karena ia

sesekali memejamkan mata, dan menggigit bibirnya. Hingga kemudian ia bersandar

di kursi menengadahkan kepalanya dan memegang tanganku erat-erat.


"Udah mas, udah....," aku mengerti ia orgasme. Celana dalamnya becek sekali.


"Dilepas saja dong, becek tuh," kataku.


"Mas sih, nakal banget!" katanya.


Aku tersenyum. Ia pun segera melepas celana dalamnya dan membuangnya ke

belakang jok. Aku kemudian membuka resletingku. Penisku yang sudah tegang pun

nongol.


"Nah, kalau ini enaknya diapain?" tanyaku.


"Ih, genit ya mas ini. Udah gedhe aja," katanya.


Ia kemudian memegang benda itu. Diremas-remasnya, lalu dikocok-kocoknya.


"Gedhe banget mas, ntar kalau masuk sakit pastinya," katanya.


"Koq bisa?" tanyaku. "Emang punya suamimu seberapa?"


"Hmm...sepertiganya kayaknya," jawabnya. "Tapi itu aja udah enak koq mas."


Selama perjalanan itu penisku dikocok, diremas dan dibelai-belai. Dan sampai

di tujuan, kayaknya Erna cukup capek karena belum keluar-keluar penisku.


"Mas kuat juga ya, padahal suamiku dikocok gini aja keluar lho," katanya.


Setelah tiba, aku langsung mengajaknya masuk. Kubetulkan celanaku dan kuambil

kunci villa. Setelah masuk aku persilakan ia untuk masuk ke kamar. Kami tak

perlu dikomando. Aku sudah melepaskan bajuku. Bahkan ia kubantu untuk

melepaskan bajunya. Kami pun berciuman panas. Kupeluk Erna kubuka pakaian

dalamnya, branya kemudian aku lempar sehingga pakaian kami berserakan di

lantai.


"Mas, ohh...," desahnya.


Aku melihat dadanya cukup besar. Kulitnya putih mulus aku langsung menghisap

putingnya. Kuhisapi lehernya, kujilati dan kuremas-rems dadanya. Aku kemudian

berlutut, penisku menantang di hadapannya. Ia mengerti tugasnya, langsung ia

duduk dan mengisap penisku. Penisku pun disentuh oleh bibirnya, lidahnya

menjilati kepalanya dan ia memasukkan penisku ke mulutnya, ia hisap dan lumuri

dengan ludahnya. Kemudian ia kocok dengan lembutnya. Testisku di

remas-remasnya, terkadang sesekali bibirnya menciumnya bergantian. Lalu

disedotnya sebentar, dan konsentrasi lagi mengulum batang penisku. Sensasi

yang ditimbulkannya sangat mebuatku geli.


"Erna...nikmat banget," kataku.


Tanganku tak tingal diam. Aku memilin-milin putingnya sampai mengeras. Ia

terangsang ternyata. Aku lalu mendorongnya, ia pun berbaring. Aku kemudian

menciumi dadanya, perutnya lalu pergi ke bawah. Di sebuah tempat yang

rambutnya tumbuh melindungi tempat pribadinya. Aku kemudian menjilati bibir

vaginanya. Erna menggeliat sperti ulat. Ia memejamkan mata menerima

rangsangan-rangsanganku di rongga vaginanya. Klitorisnya aku sapu, beserta

rambut kemaluannya. Ia menggelinjang. Aku ulangi lagi dan aku kemudian

menggigit-gigit gemas klitorisnya.


"Maasss....aakhhh...jangan gitu dong...geli...aduhh duuhh....duh...mass....!!"


Aku terus ulangi dan ulangi hingga ia tak kuat lagi. Ditekannya kepalaku dan

pantatnya mengangkat, pahanya mengapitku dan ia berjinjit.


"Maasss....aaaaahhhhkkk,.. mas ganteng, aku jebol nih...!!" katanya. "Aku

pipis mas...pipis..."


Aku kemudian duduk, melihat polah tingkahnya yang menggeliat-geliat seperti

ulat kesetrum. Tubuhnya sangat mulus, walaupun sudah bersuami dan punya anak.

Pantatnya masih kelihatan montok, mulus. Aku lalu membalikkannya untuk

menungging.


"Aku masuk lho ya, kepingin merasakan benda ini ndak?" tanyaku.


"Iya mas, masukin. Pelan-pelan ya," katanya.


Aku lalu perlahan masuk. Batang penisku yang sudah tegang dengan urat-uratnya

itu perlahan-lahan memasuki rongga asing, yang sama sekali asing baginya.

Perlahan-lahan daging itu menggelitik sebuah lubang yang sudah diberi pelumas

agar mudah untuk masuk. Aku pun masuk separuh, karena tampaknya masih seret.

Dan aku tarik lagi, lalu kudorong lagi, terus aku ulang seperti itu. Pantatnya

benar-benar menggairahkan. Aku meremas-remas pantatnya. Dan setiap aku

hentakkan penisku ke dalam, pantatnya pun menekan ke perutku.


"Nikmat sekali mbak," kataku. "Pasti suamimu puas banget ya ngentotin kamu."


Aku lalu mempercepat goyanganku. PLOK PLOK PLOK PLOK, suara pantatnya beradi

dengan selakanganku. Penisku makin masuk saja dan Erna tampak keenakan. Ia

terus mendesah, mendesis dan meraba-raba vaginanya yang dimasuki penisku.


Aku kemudian menghujamkan penisku lebih dalam hingga mentok ke rahimnya.


"Mas,...enak banget kontolnya mas...," katanya.


Aku kemudian membalikkan badannya. Kutuntun ia untuk duduk di pangkuanku. Kami

saling beradapan. Kucium ia, lalu dadanya pun naik turun seiring tubuhnya yang

naik turun. AKu menghisapi buah dadanya, kuberi sebuah cupangan. Lalu aku

hisap putingnya.


"Mas...aduh, koq dicupangi sih? ahh...hhh...ohh... enak mas, iya dipilin-pilin

gitu...eh-eh....mas...geli..," katanya.


Kujilati bagian di bawah ketiaknya. Ia menggelinjang dan memeluk tubuhku.

Vaginanya terangkat sedikit, pantatnya bergetar. Ia makin erat memelukku.


"Mas..aku keluar lagi..", katanya.


Aku perlahan-lahan membaringkannya. Kemudian aku naik turunkan pantatku. Erna

sangat menggairahkan. Penisku terus mengobok-obok vaginanya. Memeknya tidak

melakukan empot-empot, tapi cukup seret. Mata kami beradu, mulut Erna

menganga. Ia melingkarkan lengannya ke leherku. Pahanya mengapit pinggangku.


"Erna, aku keluar nih," kataku.


"Iya mas keluar aja, aku udah," katanya.


Penisku seakan-akan mengumpulkan semua kekuatannya di ujung dan kuhujamkan

penisku sedalam-dalamnya ketika keluar. CROOT...CROOT CROOOOTT, muncratlah

penisku sebanyak-banyaknya ke rahimnya. Mata Erna memutar dan kami berciuman

lama sekali. Kami kemudian kelelahan dan istirahat sebentar.


Malam itu kami bercinta terus sampai pagi. Erna cukup kaget dengan staminaku.

Kami pun bermain hingga lima ronde dan baru selesai pukul 3 pagi. Saking

lamanya kemaluan kami benar-benar ngilu rasanya.


***


Erna dan aku tidur saling berpelukan. Aku terbangun terlebih dulu. Aku bisa

menilai Erna ini benar-benar sexy. Tubuhnya boleh dibilang sangat langsing,

tapi tidak kurus.


"Erna...udah pagi nih," kataku.


"Bentar mas, masih dingin," katanya sambil makin erat memelukku.


"Mandi bareng yuk?!" ajakku.


"Tapi masih dingin," katanya.


"Ada air hangatnya koq," kataku.


"Ayo deh," kata Erna. Ia segera bangun.


Kami menuju kamar mandi, masih telanjang. Aku kemudian menyalakan air di bank

mandi dan keluar air panas. Di dalam kamar mandi ada cermin sehingga Erna bisa

melihat dirinya di sana. Sembari menunggu air bak mandi penuh, penisku tegang

lagi melihat tubuhnya, atau boleh dibilang kalau pagi memang seperti ini sih.

Kami pun berpanggutan lagi di dalam kamar mandi. Saling membelai dan

memberikan rangsangan. Aku mendorongnya hingga duduk di atas toilet, lalu

kuhisap buah dadanya, puting susunya pun kulahap dan kumainkan dengan lidahku.


"Ohh...mas,..pagi-pagi udah ngentot aja," katanya.


"Iya nih, habis kamu seksi sih," jawabku. "Sayang cuma ini kesempatan kita

ya."


"Kalau mas mau, kapan pun bisa koq. Aku rela mas," katanya.


"Aku kan cuma membayarmu untuk beli kosmetikmu," kataku.


"Tak apa-apa mas, oh...kalau mas kepingin tinggal telpon aku aja atau kita

pakai kode khusus gitu, biar mbak Vidia ndak curiga," katanya.


Penisku ku pasang di bibir memeknya, kemudian aku tekan. Memek Erna sudah

becek. Dengan leluasa aku keluar masukkan penisku.


"Aku ketagihan ngentot ama mas," katanya.


"Baiklah, ini jadi rahasia kita ya," kataku.


"Iya mas, ohh...penis mas penuh banget. Aku pikir bisa-bisa robek memekku,"

katanya.


"Tapi nggak kan?" tukasku. "Lagian memekmu peret banget."


"Ohh...mass," desahnya.


Aku cukup bermain satu ronde di kamar mandi. Dan aku percepat goyanganku. Aku

pun keluar, tapi tak sebanyak tadi malam. Mungkin habis produksi testisku.

Setelah itu kami mandi bareng, saling menggosok dan menyabuni. Kami juga

sempat berbaring sebentar di bak mandi dan bermanja-manjaan.


Pukul 9.00 ia harus sudah balik ke mall. Aku mengantarnya. Dan kami berjanji

kalau ada kesempatan akan mengulanginya lagi.


*****


(bersambung)

CERITA SEX : ANAK NAKAL SEASON 1 : BAB 7

 TETANGGAKU ISTI


Sebenarnya hubunganku dengan Nur masih baik-baik saja. Dia adikku sendiri, dan

aku tak bisa meninggalkannya. Dian dan aku melakukannya sembunyi-sembunyi,

tanpa sepengetahuan Nur. Nur sangat mencintaiku, aku tahu itu. Kami pun masih

berhubungan seperti layaknya suami istri dan masih hot di atas ranjang. Tapi

aku mengakui kalau permainanku dengan Dian hanyalah atas dasar kebutuhan saja.

Dian juga tahu kalau aku sangat mencintai istriku dan sangat menghormati

istriku.


"Mas, aku hamil," kata Dian.


"Hah? Yang bener?" tanyaku. "Trus, suamimu bagaimana?"


"Dia seneng banget, tapi aku jamin koq ini anak mas," katanya.


"Koq kamu bisa yakin?" tanyaku.


"Jelas dong, yang sudah menjebol keperawananku cuma mas, dan mas sering

nyemprot di rahimku. Jadi deh," katanya. "Tahu kalau aku hamil mas, dia seneng

banget. Dia sombong banget, sampe bilang, 'Aku perkasa juga'. Padahal dalam

hati aku ketawa."


Kami berdua tertawa.


"Trus gimana dong?" tanyaku.


"Jangan khawatir, ini rahasia kita. Aku akan pelihara anak kita. Ya walaupun

nanti manggilnya bukan papa ke mas. Rahasia ini akan tetap kita jaga hingga

entah kapan. Aku suka sama mas, aku cinta, tapi aku masih harus menghormati

suamiku," jawab Dian.


"Nanti kalau anakku mirip denganku gimana?" tanyaku.


"Ndak bakal deh, semoga aja ndak. Kalau mirip ya biarin," jelasnya sambil

ketawa. "Tapi biasanya anak mirip ibunya koq, kalau mirip ayahnya ya...ndak

tau juga."


"Kalau misalnya nanti suamimu tahu bagaimana?" tanyaku.


"Yah, itu sudah nasib berarti. Masnya sendiri gimana, mau nerima aku?" tanyanya.


Aku terdiam sebentar, "Harus ijin istri dulu, dan kamu mau menerima aku apapun

kekuranganku."


Dian tersenyum. "Susah juga ya, pastinya mbak Nur ndak bakal mau. Soalnya ia

sangat cinta banget sama mas. Kalau misalnya ndak bisa pun tak mengapa. Aku

bahagia banget bisa punya anak dari mas. Aku jadi simpanan mas pun aku rela

koq. Sementara ini dijalanin dulu aja. Yah, semoga aku bisa dapat anak juga

dari suamiku. Masa' mas terus yang ngasih benih."


Aku tersenyum dan kami pun berpelukan.


"Untuk terakhir kalinya, boleh dong mas bercinta denganku malam ini, please,"

rayunya.


"Aku tak bisa mbak, aku harus ke rumah istriku yang satunya," kataku.


"Oh iya, aku lupa kalau mas poligami," katanya. "Istrinya berjilbab semua ya,

aku nggak. Pastinya susah kalau mereka semua menerima aku."


"Siapa tahu, semuanya tergantung dari mbak Dian koq," kataku.


"Mumpung Nur, masih ke pasar. Kita bercinta cepat yuk mas, terus terang aku

sudah horni banget, gatel banget," katanya. Ternyata nafsu Dian ini besar

banget.


Saat itu kami berada di dapur. Aku buru-buru membuka resleting celanaku,

menurunkan celanaku dan Dian berpegangan di wastafel. Ia melihat ke jendela

sambil mengamati kalau-kalau ada yang masuk ke rumah. Jendela dapur kami

ditutup oleh korden tipis, kalau dari luar tak kelihatan tapi kalau dari dalam

bisa melihat keluar. Aku langsung menurunkan hot pants Dian, lalu kumasukkan

penisku yang sudah tegang juga. Disiram oleh pelumas Dian, penisku langsung on

100%. Aku pun menyodoknya.


"Ohh...mass...enak banget. Ini yang Dian suka, berjanjilah mas jangan lupakan

aku!" katanya.


"Tidak bakal Dian, ohh...enak banget memekmu," kataku.


"Kontol mas, enak banget, gurih...aahh...memekku penuh rasanya," rancaunya.


Aku menggoyangkan pantatku maju mundur. Dian merem melek, sambil sesekali

melihat pagar rumah. Aku pun percepat goyanganku takut kalau Nur pulang. Dan

Dian melihat Nur sampai di pagar.


"Mas, ada mbak Nur!" bisiknya.


Aku percepat goyanganku.


"Udah mas, udah...! Ntar ketahuan!" bisik Dian.


Tanggung penisku udah mau keluar, aku pun tuntaskan sekalian. "Dikit lagi, aku

keluar. Ohhh....Diann...hhhmmmhhh,"


Kuremas toketnya kuat-kuat saat spermaku menyembur keluar membasahi rahimnya.

Pantatku menghujam beberapa kali. Nur tampak disapa oleh tetangga kami, ia

kemudian meletakkan kresek belanjaannya di teras kemudian kembali ke luar

rumah untuk berbicara ama salah seorang ibu-ibu komplek.


Dian lega banget, aku mencabut penisku. Lahar putih spermaku mengalir ke

pahanya. Ia mencari-cari tissue dan membersihkannya kemudian kami berpakaian

lagi. Sex tercepat yang pernah aku lakukan.


Ini adalah terakhir kalinya aku bersenggama dengan Dian, karena setelah itu ia

lebih menjaga kehamilannya dan melayani suaminya. Hubungan kami setelah itu

adalah seperti tetangga biasa. Bahkan setelah anaknya lahir yang memang

sedikit mirip aku, tapi lebih banyak mirip ibunya, kami tak pernah melakukan

hubungan itu lagi. Suaminya makin sayang kepadanya dan sekarang berkat

nasehatnya suaminya mau terapi biar penisnya lebih besar lagi. Dan sampai saat

itu ia tak pernah curiga. Tak tahu nanti seperti apa.


Setelah hubungan panas kami di dapur itu. Aku pun kemudian pergi ke rumah Kak

Vidia. Sekarang ini sudah hampir lahiran. Aku menjadi suami siaga. Kak Vidia

makin merindukanku. Orang hamil besar biasanya lebih horni. Dan benar,

setiap kali aku berkunjung ke rumahnya, Kak Vidia pasti bercinta denganku.

Apalagi aku suka sekali sekarang susunya sudah keluar. Aku bisa menyusu

kepadanya seperti bayi sekarang. Dan ia sangat terangsang karena perlakuanku

kepada putingnya itu. Ia sampai bilang, "Kalau nanti dedeknya lahir, kayaknya

papah bakal ada saingan nih. Ini aja nyusunya kayak orok."


Sama seperti Nur, kak Vidia punya tetangga juga. Sudah punya anak satu.

Namanya Isti. Umurnya hampir sama seperti bunda. Anaknya udah kelas 4 SD.

Suaminya sendiri bekerja di sebuah perusahaan besi baja di luar kota. Pergi

hari Senin, pulang pasti hari sabtu. Dan mereka berkumpul hanya pada hari

sabtu dan minggu. Ada juga tetanggaku yang sering mengunjungi kami selain

Isti, namanya Erna. Pekerjannya adalah SPG di salah satu mall, walaupun

berjilbab, tapi jilbab yang dipakai masih terbilang sexy. Tapi itu ceritanya

nanti.


Aku saat itu masih di toko ketika Kak Vidia sudah kontraksi, untunglah

tetangga kami bernama Bu Isti ini bisa membantu. Dipanggil taksi kemudian

pergi ke rumah sakit. Mendengar kabar itu aku segera pergi ke rumah sakit

bersama bunda. Tentu saja bunda sangat senang karena ia akan punya cucu. Ia

pergi dengan perut buncit, cikal bakal anakku, dan juga cucunya tentunya.


Di rumah sakit aku pun langsung masuk kamar bersalin dan mendampingi kak

Vidia. Kami bahagia sekali ketika sebuah kepala nongol, lalu disusul tubuhnya

yang lain. Kami bersyukur lahir normal tanpa cacat. Anaknya laki-laki. Aku

kemudian menamainya Zahir. Bunda bahagia sekali punya cucu baru. Nur juga

bahagia, ia kuberitahu ketika Kak Vidia lahiran. Ia langsung pergi ke rumah

sakit. Wajah anakku ini mirip denganku, bahkan Kak Vidia mengatakan, "Papah

kecil."


"Setelah ini kita pake pembantu aja ya?" usulku ke Kak Vidia.


"Iya deh mas, kalau bunda membantu juga ndak bakal bisa kayaknya ya bund?" kak

Vidia menoleh ke arah bunda. Tampak anakku sedang menggeliat-geliat mencari

puting susu istriku. Lalu ia pun menyusu.


"Bunda masih kuat koq, masa' sudah ngelahirin 3 orang anak cuma bantu gini

saja ndak kuat. Bunda udah biasa," katanya sambil mengedip ke arahku.


"Ya sudah, kalau begitu kak Vidia tinggal di rumah bunda aja ya?" kataku.


"Trus, rumahnya bagaimana?" tanya Kak Vidia.


"Ya nggak apa-apa kan? Ditinggal sementara waktu, Kan ndak lama sampai nifasmu

selesai baru balik lagi ke rumah. Sementara ini kan kamu masih lemes," kataku.


"Iya deh pah," kata kak Vidia. "Tetapi minta tolong dong, itu kayaknya ada

atap yang bocor. Papah bisa benerin nggak?"


"Di sebelah mana?" tanyaku.


"Di kamarnya dedek, yang udah kita siapkan itu. Coba deh dibenerin dulu, ntar

dedek kalau bocor kamarnya pas hujan kan kasihan," katanya.


"Iya, iya, nanti aku cek," kataku.


"Haii Zahir, lucunya. Tuh Laila, itu sepupu Laila, namanya Zahir," anakku

tampak matanya yang bulat mengamati Zahir sambil mengoceh entah bahasa apa.

Kami semua tersenyum melihat tingkah polah anak bayi ini. Bunda lalu mencium

Laila karena gemes.


Dua hari kemudian aku ke rumah Kak Vidia untuk benerin atap yang bocor. Aku

menyewa tukang untuk benerin. Saat itulah Bu Isti menyapaku.


"Gimana mas, lahirannya?" tanyanya.


"Cowok bu," jawabku.


"Waahh..selamat ya, namanya siapa?" tanyanya.


"Zahir Putra Pratama," jawabku.


"Alhamdulillah kalau begitu," katanya. "Mau renovasi mas? Koq ada tukang

segala?"


"Iya, atap bocor," tukasku.


"Mbak Vidianya ke mana? Ke rumah orang tua?" tanyanya.


"Iya, sementara tinggal di sana dulu," jawabku.


Aku pun kemudian ngobrol ngalor ngidul ama tetanggaku ini. Mulai dari

pendidikan, keluarga hingga tempat tinggal. Bu Isti memang tak punya teman

untuk diajak bicara di rumah, makanya itu ia sering cerita sana-sini dengan

ibu-ibu tetangga yang lainnya.


Ternyata atap bocor karena ada genteng yang retak serta talangnya bocor.

Kurogoh kocek untuk membeli apapun yang dibutuhkan oleh tukang. Udah siang

hari dan aku belum makan siang.


Bu Isti menyapaku lagi, "Udah makan siang belum mas? Nih buat tukangnya." Ia

membawa nampan berisi gorengan dan kopi.


"Waduh bu, merepotkan saja," kataku.


"Nggak apa-apa, lagian kasihan tuh mas-mas tukangnya masa' ndak dikasih

minum?" tanyanya.


"Itu udah ada di dalem," aku menunjuk satu dus minuman ringan dan beberapa

potong kue.


"Ini tambahan, mas Doni kalau laper makan di rumahku gih," ajaknya.


"Gimana ya?" aku agak ndak enak.


"Nggak apa-apa," katanya.


Aku pun mengangguk. Aku menerima nampannya lalu kuletakkan di meja di dalam

rumah. Sementara para tukang bekerja istirahat dulu sambil menikmati suguhan

kami. Aku pergi ke tetangga sebelah. Bu Isti langsung mempersilakan masuk.

Anaknya tampak sudah pulang dan sedang menonton tv. Anaknya seorang cewek

namanya Luna. Melihatku masuk ia tampak senang sekali.


"Om? Boleh ya main ke rumah Om seperti kemaren?" tanyanya.


"Ya...boleh-boleh aja," jawabku. Ia suka menonton home theater yang aku punya

di rumah. Bahkan terkadang ia main ke rumahku cuma untuk menyetel film

kesukaannya dengan DVD. Karena tv-ku besar, makanya ia sangat suka sekali

kalau nonton tv di rumahku.


"Hush,...ndak boleh seperti itu," kata Bu Isti.


"Ibu, kan om bolehin," katanya.


"Iya koq boleh, ndak apa-apa, tapi harus juga belajar ya? Ndak nonton terus,"

kataku. "Agak nanti ya, soalnya rumah Om masih dibenerin."


Ia setuju.


Aku pun akhirnya makan siang di rumah Bu Isti. Orangnya ramah dan masakannya

juga enak. Setelah kenyang aku pun akhirnya pulang. Pekerjaan tukang sudah

selesai.


Malamnya Luna main ke rumahku. Ia pun akhirnya menyetel kaset DVD

yang ia bawa. Banyak banget. Bu Isti mengijinkan asal jangan lupa untuk

pulang.


Aku masih di rumah itu sambil sesekali beres-beres dan bersih-bersih rumah

sampai malam. Dan itu si Luna betah saja nonton. Sampe akhirnya ia tertidur di

sofaku yang nyaman. Waduh aku bingung juga mau bangunin. Akhirnya kubiarkan

saja. Saat itu Bu Isti datang ke rumahku. Untuk mengajak Luna pulang.


"Udah tidur bu," kataku.


"Waduh trus bagaimana mas?" tanyanya.


"Biarin aja tidur di sini, sudah saya selimuti koq," kataku.


"Maaf kalau merepotkan," katanya. "Ya sudah, aku tinggal dulu deh kalau

begitu, kalau nanti ia bangun suruh pulang ya mas?"


Aku mengangguk.


Tapi tampaknya Luna tak bangun-bangun juga, mungkin karena capek atau sofaku

terlalu nyaman. Dan sudah pukul 10 malam. Perumahan ini memang sepi kalau jam

segini. Bu Isti pun datang lagi. Aku saat itu masih membuka pintu dan duduk di

teras.


"Belum bangun juga mas?" tanya Bu Isti.


"Belum bu, kalau ndak keberatan Bu Isti tidur di sini saja," kataku

menawarkan.


Ia agak ragu. "Tapi nanti dilihat tetangga ndak enak mas."


"Tetangga yang mana bu, wong perumahan sepi seperti ini koq," kataku. "Kalau

mbak Erna sih sekarang malah belum pulang dari mall. Saya juga ndak enak kalau

bangunin Luna."


"Ya udah deh, makasih tawarannya," katanya. Awalnya aku tak ada niat untuk

punya pikiran ngentotin dia.


Akhirnya ia pun masuk rumahku. Karena sudah malam aku menutup pintu.


"Bu Isti tidur di kamarku saja, saya mau tidur di bawah, maaf kalau cuma punya

satu tempat tidur. Soalnya yang satunya lagi tempat tidur bayi" kataku.


"Ndak mas, saya tidur di bawah aja dekat Luna," katanya.


"Jangan, ntar kalau Bu Isti sakit saya yang bingung," kataku.


Bu Isti kemudian terdiam sejenak. "Ya udah deh mas, gini aja kita tidur

seranjang tapi jangan berdempetan ya?"


"Wah, nanti bisa berabe bu, takut saya," kataku.


"Saya juga bingung, soalnya kebiasaan saya biasa ngelonin Luna dan takut tidur

sendirian di rumah, gimana ya?..." Bu Isti tampak khawatir.


Aku pun berpikir keras. Hingga akhirnya. "Ya udah deh, kita tidur seranjang.

Tapi ndak berdempetan. Misalnya nanti kalau sampai kelewat batas, saya tak

tanggung jawab lho ya?"


"Emangnya kelewat batas seperti apa mas?" katanya sambil tersenyum.


"Ya, ibu tahu sendiri," jawabku.


Bu Isti tertawa kecil. "Iya, iya, ibu tahu koq. Mas Doni ini paling setia sama

istrinya."


Akhirnya kami pun beneran tidur seranjang. Ada sesuatu yang unik. Sebelum

tidur Bu Isti melepaskan bra-nya ia bilang biar ndak sakit kalau tidur. Dan

kami pun tertidur saling membelakangi. Aku memang bisa tidur bahkan terlelap

selama beberapa jam, hingga kemudian hawa dingin mulai masuk melalui

angin-angin yang ada di kamar.


Secara tak sengaja aku dan Bu Isti berpelukan. Aku tak sadar dan dia tak

sadar. Wajah kami bertemu kedua tangan kami saling merangkul. Bibir kami pun

bertemu secara tak sengaja. Dan kami terbangun. Kami kaget dan saling

membelakangi lagi.


"Maaf, mas," katanya.


"Maafkan saya Bu, ndak sengaja," kataku.


"Saya juga," katanya.


Setelah itu kami terdiam. Aku tahu kami sama-sama tidak bisa tidur setelah

itu. Sementara itu hawa dingin makin menusuk. Sialnya juga aku cuma punya satu

selimut dan itu sudah aku berikan ke Luna. Ia pasti hangat dengan selimutnya.

Aku menggigil.


"Mas, maaf apakah mas ngidupin AC kamar? Tolong matiin dong!" katanya.


"Saya ndak punya AC bu, ini memang hawanya dingin," kataku.


Kami terdiam lagi.


"Mas ndak punya selimut lagi?" tanyanya.


"Tidak bu, udah dipakai oleh Luna," jawabku.


Kami terdiam lama sekali, aku makin menggigil.


"Maaf, ibu kedinginan. Mas Doni kedinginan juga kan? Kalau boleh kita

berpelukan biar hangat, sekali lagi maaf," katanya.


Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi aku memeluknya dari belakang.

CESSSS...rasanya. Jantungku berdebar-debar. Dan aku bisa rasakan jantung Bu

Isti juga berdebar-debar.


"Saya punya sarung bu, buat ibu kalau mau," kataku.


Kemudian aku mengambil sarung dari lemari, Bu Isti bangun lalu menerimanya.


"Tapi buat mas apa?" tanyanya.


"Saya ndak apa-apa," jawabku.


"Kita satu sarung saja mas, dingin banget hari ini," katanya. "Maklum kita kan

ada di kota M, makanya dingin apalagi ini pegunungan."


Aku pun tak bisa berpikir panjang lagi, kami pun satu sarung. Saling

berpelukan. Tubuh Bu Isti masih bagus. Dadanya masih kencang, kulitnya juga

masih halus. Walaupun mungkin perutnya sedikit buncit. Aku memeluknya dari

belakang, Kami sudah pakai dua sarung. Sebagian menutupi kaki kami, sebagian

lagi badan kami. Sudah mulai hangat. Namun ternyata penisku tak bisa diajak

kompromi. Karena terus menekan pantat Bu Isti akhirnya tegang juga.


"Mas, ada yang keras," kata Bu Isti.


"Maaf bu, saya juga lelaki. Wajar kalau begini," kataku.


"Iya, saya tahu. Keras banget tapi," katanya. "Mas Doni sering main sama

istrinya?"


"I..iya, kenapa bu?"


"Pantes saja, istrinya takluk begitu," jelasnya.


Entah siapa yang memulai, kini mulutku yang ada di tengkuknya sekarang

menciuminya.


"Bu Isti, maaf, tapi saya ndak tahan lagi bu. Saya kepengen bisa menjinakkan

senjata saya ini. Udah kepingin," kataku.


"Saya ngerti koq mas, ibu juga kepengen," katanya. Ia lalu berbalik di dalam

sarung yang sempit ini. Kami lalu berciuman. Tangannya yang dingin kemudian

menuju ke penisku. Ia mengelus-elusnya dari luar kolor. "Besar ya mas?"


Kami berpanggutan, panase kali, aku tak sabar meremas-remas dadanya. Akhirnya

Kami duduk, kemudian saling melepas baju kami semuanya. Kemudian saling

berpelukan di dalam sarung lagi. Dada kami bersatu. Mulut kami berpanggutan

dan kemaluan kami pun bertemu. Tak kusangka Bu Isti ini sudah becek di bawah

sana.


"Saya sudah becek dari tadi mas, mikirin kita seperti ini," kata Bu Isti.

"ohh..masss...puasin ibu...ibu sudah lama ndak begituan sama suami."


Penisku langsung masuk begitu saja memeknya. Memeknya memang jarang dipakai,

akibatnya agak seret waktu digesek. Hawa dingin yang menusuk ini, kini sudah

mulai menghangat, karena pergumulan kami makin hot di atas ranjang. Kami

saling menciumi, ia menghisap leherku, aku juga. Kuhisap puting susunya

menonjol itu kuat-kuat. Dadanya masih kencang walaupun usianya sudah kepala 4.

Aku menekan-nekan pantatku, hingga Bu Isti terdorong ke tembok. Posisi ini

ternyata lebih cepat membuatku untuk ejakulasi. Demikian juga Bu Isti.


"Mas, Ibu mau keluar, soalnya geli banget," katanya. Mungkin juga karena hawa

dingin yang membuat tubuh kami menggigil, karena itu membuat getaran-getaran

tertentu yang merangsang testisku untuk cepat berproduksi.


"Sama bu, enak banget," kataku.


Kami pun sama-sama keluar. Spermaku tumpah di rahimnya. Kami kemudian

berguling-guling di atas ranjang, dan aku menindihnya. Bu Isti dan aku

berpandangan sesaat. Kemudian kami berpanggutan lagi. Setelah itu kami saling

berpelukan erat untuk mengusir hawa dingin yang menusuk.


Boro-boro untuk tidur. Kami malah saling bicara.


Bu Isti terus terang kalau ketika pertama kali berkenalan sudah naksir aku,

tapi cuma dipendam saja. Ndak nyangka kalau berakhir di atas ranjang. Dan ia

pun cerita kalau karena frekuensi bertemu dengan suaminya jarang, makanya ia

susah mendapatkan kepuasan. Walaupun sudah lama hidup berumah tangga. Sessat

kemudian kami punya energi lagi dan melanjutkan gairah ini. Aku sodok sekarang

ia dari belakang sambil tetap berbaring di dalam sarung. Setelah orgasme lagi,

aku mengulanginya lagi dari atas. Rasanya aku seperti menghianati Kak Vidia,

karena bersenggama dengan orang lain di atas kasur kami.


Kami pun akhirnya tertidur kelelahan dan penisku serasa ngilu karena bercinta

sampai 5 ronde malam itu.


Paginya Bu Isti bangun duluan. Karena aku mendapati tidur sendirian dengan

sarung. Aku bangun dan melihatnya berpakaian.


"Sudah pagi mas, makasih ya semalam," katanya. "Besok atau kapan-kapan diulang

lagi. Ibu suka dengan ketahanan mas di atas ranjang."


Kemudian kami berpisah dengan panggutan yang hot. Setelah itu ia membangunkan

anaknya untuk pulang, karena Luna masih sekolah hari ini.


CERITA SEX : CINTA YANG TABU BAB : 4

 Dia kemudian mengambil botol shampo yang berada di dekatnya. Perlahan dia menggesek gesekan ujung botol shampo itu ke lubang surganya. Sambil terus bermain dengan payudaranya, ia mendesah tidak karuan. “Ngghhh Shhh... aahhh!!”, Desahnya.


Nampaknya orgasm sekali tidaklah cukup. Dia mengincar kenikmatan selanjutnya. Semuanya terlihat baik baik saja, namun jangan sampai botol itu masuk kedalam lubang vaginanya, aku tidak ingin keperawananya direbut oleh botol shampo itu. Lebih baik olehku sebagai adiknya.


Aku terus memerhatikanya mendesah sambil terus masturbasi menggunakan botol itu sampai tidak terasa bahwa kontolku kembali berdiri tegak. “Ah anjing! Aku ewe aja sekarang!”, teriakku.


Aku sudah membulatkan tekad. Akan aku setubuhi dia disana, sekarang juga. Tak peduli apa jadinya nanti, aku akan selalu bisa kabur dari rumah kapanpun aku mau. Aku langsung berlari kearah pintu kamar mandi. Aku mengetuk dan memanggil namanya, menyuruhnya untuk membuka pintu agar aku bisa dobrak dan menerobos masuk.


“Teh buka dulu,Ilham mau ngomong”, ujarku sambil mengetuk.


“Eh, eh bentar ham aduh... bentar bentar”, jawabnya dari dalam kamar mandi. Ia nampaknya panik ketika sedang masturbasi tiba tiba aku mengetuk pintu kamar mandinya seperti ini. perlahan pintunya terbuka. Celahnya kecil sekali, tapi aku yakin dengan sekali dorongan, aku bisa menerobos masuk.


“Kenapa ham?”, tanyanya. Wajahnya yang polos keluar dari celah kamar mandi itu.


*Deg!*


Aku terdiam menatap wajah cantiknya itu. Jantungku berdebar sangat kencang, pikiranku bimbang, apakah aku benar benar harus mendobrak pintu ini? apakah aku benar benar harus menyetubuhi kakakku sendiri? “Ham? Kok bengong?”, tanyanya.


Tidak,


Aku tidak bisa melakukan ini. Mau bagaimanapun juga dia kakakku sendiri. Kalau aku rebut keperawanannya dengan paksa, aku benar benar adik yang jahat. Lebih baik aku urungkan niatku dan menyusun strategi untuk lain hari. Aku menghirup nafasku dalam dalam kemudian membuangnya perlahan. Sial, ambisiku lagi lagi hanya sebatas niat saja, belum berani melakukan.


Kalau saja dia bukan kakakku, mungkin sudah habis aku gerogoti tubuhnya itu.


Aku kemudian menggelengkan kepalaku sambil tersneyum. “Engga, Ilham Cuma mau bilang teteh cantik hehe”, ujarku. Dia kemudian membanting pintu kamar mandi itu. “Apaan sih?!”, ujarnya sambil malu malu.


Mungkin ini yang terbaik, setidaknya untuk saat ini.


“Jangan gegabah ham, pelan pelan aja, tahan nafsunya...”, gumamku.


Aku kembali berjalan ke kamarku dengan rasa yang lumayan lega setelah melihat wajahnya. Ini benar benar diluar dugaanku. Aku tidak menyangka bisa menumbuhkan perasaan seperti ini kepada kakakku sendiri. Padahal awalnya aku anak yang normal, menyukai perempuan lain selain kakakku sendiri. Namun semenjak aku berfantasy menggunakan celana dalam kakakku itu, semuanya berubah sangat drastis.


Tidak bisa dipungkiri, aku benar benar menyukai kakakku sendiri.


Malam itu kembali menjadi malam yang tenang, sampai esok hari tiba, dimana ayah dan ibu kami pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota. Aku masih takut kalau kakakku akan mengadu soal perbuatan nyeleneh yang aku lakukan kepada dia kemarin, namun nampaknya tidak.


Aku mendekatinya dan bertanya, “Teh... Teteh gak ngadu kan?”. Dia menggelengkan kepalanya. “Engga kok”, ujarnya sembari mengelus elus kepalaku. Aku tersenyum menlihat sikap manisnya itu. Benar benar kakak idaman semua orang.


“Ham aman aman aja kan rumah ini kemarin?”, tanya ibuku.


“Iya mah aman, teteh juga bantu jaga kok”, jawabku.


“Ohh, tuh mamah bawa oleh oleh di meja, makan gih, teteh juga makan. Mamah sama papah mau tidur dulu, capek banget”, ujarnya yang kemudian pergi ke kamar untuk istirahat. Aku dan kakakku kemudian pergi ke meja makan dan membuka tudung saji, di dalamnya terdapat beberapa lauk nasi favorit kamu. Berhubung kami belum sarapan, dengan sigap, kami langsung duduk di kursi dan langsung memakan hidangan tersebut.


Selagi menyantap sarapan itu, aku bsia merasakan kakakku terus memerhatikanku. Sesekali aku meliriknya, namun ia nampak memalingkan wajahnya. “apaan sih teh?!”, kataku.


“Engga. Ngga nyangka aja punya adek manis kayak kamu”, jawabnya sambil terseyum.


“Eh... Jadi malu”, ujarku dan kemudian menundukan kepalaku.


“Tapi tukang zinah!! Weeee!”, sambungnya sambil berusaha mengejekku.


“Ehhh! sssstttttt!!!”


Kami pun larut dalam canda tawa. Aku yakin hubungan kami baik baik saja. Namun perasaan suka kepada kakakku hingga saat ini belum hilang sama sekali, justru malah semakin jadi. Melihatnya tersenyum dan tertawa serta bersikap baik kepadaku semakin membuat bunga bunga dalam hatiku bermekaran. Aku bertanya kepada diriku, “Teteh ngerasain hal yang sama gak ya?”, tanyaku dalam hati.


Mana mungkin. Hubungan sedarah seperti itu mana mungkin dirasakan olehnya. Kakakku yang agamis dan cinta segala hal tentang agama in itidak mungkin merasakan perasaan tabu seperti itu. Tentu saja aku awalnya berfikir seperti itu, sampai aku terbesit pikiran untuk mengeluarkan kartu trap ku.


Aku tidak akan pernah melupakan kejadian semalam, dimana ia masturbasi dan berusaha memuaskan dirinya, bahkan menggunakan botol shampo sekalipun. Ini semua kembali meninggalkan pertanyaan untukku. “Apa sifat agamis nya hanya pura pura ya?”, tanyaku dalam hati.


Yang jelas, aku sudah punya perangkap untuk menjebaknya.


“Teh, mumpung lagi berdua gini... Ilham mau nanya”, ujarku.


“Nanya apa ham?”, tanyanya balik.


“Maaf nih ya teh kalo gak sopan.... Kemarin kan teteh mergokin ilham lagi... Itu, anu... Onani ya... Gimana kalo misalkan Ilham bilang kalo misalnya Ilham mergokin teteh juga lagi... Umm... Masterbasi...”, ujarku dengan penuh keraguan.


Dia nampak terkejut mendengar hal itu. “Liat dari mana kamu?”, jawabnya sambil mengubah nadanya menjadi lebih berat, tanda dia sedang serius bertanya.


“Rahasia~ Tapi yang jelas, kemarin teteh sampe pake botol shampo kan buat muasin diri sendiri? Ilham liat semuanya kok. Teteh kayaknya menikmatii bang-“, kata kataku tiba tiba terpotong olehnya. “EEIISSYUUUTT!! UDAH!... Udah!”, bentaknya. Aku melihat wajahnya yang di tekuk dan memerah itu. Ia nampaknya sedang kesal.


“A...I..itu”, ujarnya terbatah batah. Speechless sekali dia.


“Hehehe tenang, karena teteh nggak ngaish tau kemarin ilham onani, ilham juga gak akan ngasih tau kalo semalem teteh masturbasi”, kataku. Dia hanya menundukan kepalanya dan secara tiba tiba langsung menjewer daun telingaku. “KAMUU YAAA!! IHHHH!! BOCAH NAKAL!”, bentaknya. “Aduh ampun ampunnn!!!”, teriakku.


“Teteh! Si dedek jangan di jewer!”, teriak mamahku dari dalam kamar.


“Mamah, si dedeknya bandel daa!!”, balas kakaku.


Kena! Semuanya sesuai rencana. Aku kini mengetahui rahasianya dan bisa menjadikan itu sebagai sandera untuknya melakukan hal hal yang aku inginkan. “Wee, siapa sekarang yang suka zinah weee!!!”, ejekku sambil menjulurkan lidah. Dia memutar daun telingaku dengan sangat keras sambil terus menampakan wajah kesal akibat perkataanku.


“Awas aja ya sampe kamu bilang ke mamah atau papah!”, ancamnya.


Aku haya tertawa mendengarnya. Perkataanya sama seperti ketika aku aku ketahuan sedang onani olehnya kemarin sore.


Mulai sekarang, semua sudah ada dalam genggamanku. Bisa jadi kedekatan hubungan kami bisa lebih dari sekedar kakak dan adik kedepanya. Aku benar benar ingin menanamkan benih cinta didalam tubuhnya itu, biar aku ajari apa itu sex dan bagaimana cara menikmatinya, mungkin lain hari, aku bisa bersetubuh denganya tanoa ada batasan “sedarah” lagi.


Aku tidak tau, untuk sekarang, semuanya sesuai rencana.

Sunday, 24 January 2021

CERITA SEX : CINTA YANG TABU BAB : 3

 Malam itu hujan mereda, dan aku terbangun karena suara Adzan yang menggema dari belakang rumahku.


Aku keluar kamarku dan melihat apakah kakakku sudah pulang atau belum. “Hmm, belum ya”, ujarku sambil melihat ke sekeliling rumah.”Apa masih marah ya...”, sambungku.


Aku berusaha menghubunginya namun dia tidak menjawab telefon atau pesan WA ku. Aku sedikit khawatir karena ini sudah lebih dari jam tujuh malam dan dia pergi begitu saja tanpa berkabar akan kemana dan pulang jam berapa. Aku berusaha menghubungi calon suaminya pun tidak diangkat sama sekali. “Apa aku cari aja ya?”, gumamku.


Karena merasa bersalah, akupun bersiap untuk mencarinya. Aku tidak ingin kakakku kenapa napa diluar sana. Yang aku takutkan adalah karena tubuhnya yang lemah dan parasnya yang cantik, banyak laki laki nakal diluar sana berani macam macam kepada kakakku. Baru saja aku mengunci rumahku dan bersiap berangkat, kakakku pulang sambil menangis dengan kondisnya pakaianya yang terlihat sangat kacau.


“Astagfirullah teteh?! Teteh dari mana?!”, tanyaku dengan nada panik. Aku kemudian menurunkan pandanganku ke arah bajunya yang berantakan, seolah habis diperkosa seseorang. “Teteh gapapa? Ya ampun berantakan gini”, sambungku.


“Diem!”, bentaknya yang kemudian masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku kebingungan harus apa. Aku kemudian kembali masuk kedalam rumah dan menghampirinya yang menangis di ruang tengah. Aku duduk di salah satu sofa disana sambil memerhatikan dia yang berkali kali menghapus air matanya. “Teh?”, tanyaku.


Dia tidak menjawab.


Melihatnya menggigil kedinginan, aku pergi ke dapur dan membuatkanya secangkir teh hangat. Dia kemudian meminum teh tersebut sambil merangkul keuda kakinya. “Teteh kenapa? Maaf kalo misalnya gara gara Ilham tadi siang, tapi kenapa sampe berantakan gini?”, tanyaku. Lagi lagi dia tidak menjawab. Nampaknya ada hal yang lebih membuatnya shock ketimbang perbuatanku tadi siang, namun aku penasaran apa?


Aku kemudian duduk di sampingnya. Bahu kami saling berdempetan dan terasa perlahan dia menyenderkan badanya ke badanku. “Gamau nikah aku sama Kharis.... Ngga... Nggamau nikah”, ucapnya sayu. Akhirnya dia berbicara. “Hmm? Emang kenapa teh? Bukanya barusan teteh abis jalan sama dia?”, tanyaku. Dia terlihat memeluk erat badanya sendiri “Engga... Pokoknya engga”, jawabnya. Aku merangkul kakakku dan menyenderkan kepalaku ke kepalanya. “Teh, apapun itu, teteh yang sabar ya, emang cobaan selalu ada, tapi teteh harus kuat”, ujarku sambil mengelus bahunya yang aku rangkul tersebut.


Sial, perasaan apa ini?


Aku benar benar merasa seperti pacarnya sekarang. Posisi seperti ini membuatku ingin sekali mengecup bibir mungilnya itu. Namun masih aku tahan. Aroma tubuhnya benar benar khas, bau keringat bercampur dengan bau parfum menghasilkan bau apek yang justru malah membuatku entah kenapa nyaman berlama lama mencium baunya. Aku menggulirkan kedua bola mataku ke arah dadanya. Karena kerudung syar’i nya yang berantakan entah kenapa, bagian dadanya sedikit ter-ekspose. Beberapa ancing gamis bagian atasnya terbuka dan memperlihatkan bra putih yang ia kenakan. Ternyata lumayan juga, kalau saja aku bisa meremas dan bermain toketnya itu, aku akan sangat bahagia. Di kondisi seperti ini juga salah satu tanganku ingin bermain dengan vaginanya. Kumasukan beberapa jariku ke lubang surga miliknya dan ku kocok perlahan lahan. Semakin cepan dan semakin cepat sampai dia lemas karena orgasm berulang ulang.


Kontolku perlahan mulai berdiri tegak. Keras sekali sampai membuat celanaku menjadi sempit hingga adikku merasa kesakitan didalam sana.


Jantungku berdebar debar sangat kencang. Apa aku eksekusi saja sekarang? mumpung kesempatanya bagus. “Ahh engga engga”, ujarku ragu. “Lagi kondisi kayak gini malah ngewe mulu pikiranya, dasar aku”, sambungku.


Merasa sudah baikan, kakakku kemudian beranjak dari senderan pundakku dan duduk seperti biasa lagi. Aku melepas rangkulan tanganku dan tersenyjm padanya. “Gimana? Dah baikan?”, tanyaku. Dia mengangguk dan kemudian membalas senyumanku dengan kata “Makasih ya ham”.


*Deg!*


Melihatnya seperti ini lagi-lagi membuat detak jantungku berdebar sangat kencang. Bukan, ini bukan tentang nafsu sex, tapi... Entah apa ini. jangan jangan aku benar benar suka ke kakakku sendiri? Ah mana mungkin, itu kan tabu, apalagi buat keluarga agamis kayak kita. Seketika dia langsung menekuk kembali raut wajahnya, “Eh tapi teteh masih inget perbuatan kamu tadi siang loh!”, ujarnya.


“Eh... Anuuu... Hehehe maaf”, jawabku sambil menggaruk garuk kepalaku lalu menundukanya.


Dia tersenyjm kembali. “Tapi karena kamu udah baik sama teteh sekarang, teteh gak akan ngadu ke papah sama mamah, ASAL!.... Asal kamu gak ngulangin lagi ya sayang?”, katanya yang kemudian mengelus elus kepalaku. “Teteh sayang sama kamu, papah mamah juga sayang, malu loh hal kalo melakukan perbuatan dosa kayak gitu. Jadi jangan lagi ya? Janji?”, tegurnya dengan nada halus.


“Janji!”, kataku sambil tersenyum.


Tentu saja tidak, bodoh.


Setelah apa yang kakakku lakukan saat ini, perasaan suka ku terhadapnya semakin muncul. Semakin aku suka, berarti semakin aku bernafsu untuk menyetubuhuhinya. Mungkin kedepanya, aku tidak hanya akan coli menggunakan CDnya, namun aku akan coli langsung didepanya yang sedang tertidur.


“Ide bagus!”, ceriaku dalam hati. “Nanti nanti aku coba ah diem diem masuk ke kamarnya malem, lalu coli depan badanya”, sambungku.


Selagi memikirkan itu, kau melihatnya berdiri dari sofa dan pergi menuju kamarnya. “Udah ya, teteh mau bersih bersih badan dulu, mandi, sholat terus mau ngaji, kamu juga dek, atau kalo males, udah beresin rumah aja, besok mamah papah dateng, malu kalo berantakan gini”, perintahnya.


“Enak aja nyuruh nyuruh”, kesalku. “Isep dulu nih kontol baru nyuruh nyuruh”, gumamku dalam hati. Walaupun akhri akhirnya aku menuruti perkataanya sih. Aku mengambil sapu dan menyapu seisi rumah malam itu. Kakakku terlihat mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kesempatan kedua untuk mengintipnya? Kenapa tidak! Secepat kilat aku langsung berlari masuk ke dalam kamarku dan kali ini, aku mengunci pintuku. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Tanpa ragu, aku langsung menurunkan celanaku da bersiap untuk mengocok kontolku beriringan dengan mataku yang mengintip melalui lubang yang mengarah langsung ke kamar mandi.


Kenikmatan pun dimulai kembali.


Tubuh telanjangnya lagi lagi terlihat dengan jelas. Ketika dia mengangkat kedua tanganya, aku benar benar ingin membenamkan wajah dan hidungku di ketiaknya yang mulus itu, menjilati setiap inci dari kulitnya yang belum terjamah oleh siapapun. Rambut tipis di area vaginanya membuatku semakin berfasu untuk terus menambah kecepatan kocokanku.


“GILA GILA GILAA!!!’, Teriakku dalam hati. Nafasku kembali menjadi tidak teratur, jantungku berdetak sangat kencang dan keringat dingin bercucuran dari kepalaku. Aku bahkan bisa membayangkan aroma tubuhnya itu dari jarak ini.


Selagi dia membanjur tubuhnya dengan air, aku lihat salah satu tanganya perlahan mulai membersihkan area vaginanya dengan sabun. Jarinya masuk ke selangkangan kakinya dan akhirnya menyentuk lipatan daging empuk yang ditumbuhi rambut tipis itu. “Colmek! Colmek tehhh!!”, teriakku dalam hati sambil terus mengocok batangku yang sudah mengeras dari tadi ini.


Semuanya tampak normal, sampai dia mulai memijit mijit vaginanya dengan tangan kirinya dibawah riuhnya shower yang menghujani badanya dengan air hangat. “Hah?”, heranku. Dia kemudian menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya untuk mengusap bagian clitors dan belahan vaginanya itu. Jari telunjuk dari tangan kananya kemudian dicelukan ke mulutnya sendiri sembari ia bermain dengan vagina miliknya. “Ngghh... Ssshhh”, desahnya. Dia kemudian menyenderkan dirinya ke dinding kamar mandi.


Eh apa ini?


Kakakku benar benar colmek di dalam sana. Dia sedang masturbasi! Moment yang sama sekaoi tidak pernah aku lihat dalam hidupku, kakakku sendiri yang sehari hari berpenmpilan agamis, berperilaku sopan dan santun, dan menebarkan kesan keanggunan dalam dirinya ternyata juga sering... Colmek.


Nafasku semakin tidak teratur. Aku semakin mempercepat kocokan tanganku. Tak lama kemudian nampaknya kakakku juga sudah hampir mencapai klimaks. Dia mengusap dan memijit area vagiannya dengan cepat sementara salah satu tanganya sekarang mulai meremas payudaranya snediri. “Ngghhh... Sshhh.. Ahh.. AHHHH!!!!”, Teriaknya.


Ternyata dia orgasm. Otot ototnya tubuhnya terlihat tegang, detak jantungnya yang berdebar sangat kencang dan nafasnya mulai memburu. Disaat yang bersamaan, akupun sudah mencapai klimaks. Lagi lagi ku tembakan semprotan lahar panasku ini ke foto kakakku yang masih ada di kamarku. “Mffhh! Sshh! Ahhhh”, desahku sambil terus mengocok kontolku agar menembakan lebih banyak sperma.


Aku terduduk lemas, sambil membayangkan rencana jahat apa yang akan aku lakukan setelah mengetahui bahwa kakakku ternyata sering melakukan masturbasi seperti ini. perlahan aku kemudian bangkit dan kembali mengintip dari lubang itu.


.


.


.




Dan pemandangan selanjutnya membuat jantungku berdebar semakin kencang....

Saturday, 23 January 2021

CERITA SEX : CINTA YANG TABU BAB : 2

 Sial jantungku serasa mau copot.


Dia dengan spontan langsung menutup matanya dan keluar menutup pintu. “Astagfirullah adek kamu ngapain?! Jawab teteh!”, bentaknya dari luar pintu. “Ngghh, itu... Anu teh...”, jawabku yang bingung mencari alasan...


Mati aku, aku sangat payah dalam mencari alasan..


“Anu anu kenapa?! Kamu mainin titit kamu itu kan?! Dosa astagfirulah Ilham!”, bentaknya.


“M...Maaf teh, khilaf, ilhamnya udah gak tahan tadi sempet ngintip teteh telanjang mau mandi”, jawabku dengan jujur.


Dia pun terdiam. Tak ada suara apa apa dari luar pintu.


Sial, sepertinya dia sangat marah. “Teh? Maaf ya teh...”, tanyaku.


Keheningan ini bertahan sesaat sampai tiba tiba dia kembali membuka pintu dan masuk ke dalam kamarku dan masih menggunakan handuk dengan memberikan tatapan najis kepadaku. “Kamu segitunya pingin zinah?”, tanyanya. “E... Enggak kok teh”, jawabku dengan ragu. “Jujur”, tanyanya kembali.


“Iya teh... Ilham udah lama mendem nafsu gini tuh...”, sambungku.


Matanya menggambarkan pandangan yang busuk kepadaku.


“Astagfirullah... Bilangin ke papah biar tau rasa!”, ujarnya sambil membanting pintu kamarku. Dia pun pergi entah kemana, namun yang jelas aku bisa bisa dicoret dari KK oleh ayahku. Ini tidak baik, pikiranku mulai kacau. “Jadi gini ya resikonya ngejalanin hubungan paling terlarang itu?”, gumamku sambil berusaha menenangkan diri.


“Sial, aku harus gimana ini?”, ujarku sambil berjalan kesana kemari. “Apa aku lanjut minta maaf aja kali ya? Tapi dia udah tanggung ngeliat aku kayak gitu...”, sambungku.


Aku pun kembali memakai baju dan celanaku kemudian berjalan menuju kamarnya. Aku perlahan mengetuk pintu kayunya sambil berusaha membujuknya untuk memaafkanku. “Teh... Maaf ya tehh... Nggak akan diulangi...”, mohonku dengan nada memelas.


Dia kemudian membuka pintu,


*PLAK!*


Tamparan yang keras mendarat di pipiku. Tak hanya berhenti di tamparan. Kakakku kemudian memukulku merkali kali di kepala dan pundak sambil menangis. Tak jarang juga dia menendangku. Namun aku tidak memukul balik, aku menerima semua hantamanya karena aku pikir aku pantas menerima itu.


“Istighfar Ilham! Keluarga kita menjunjung tinggi surga loh! Kamu kenapa jadi kayak gini?!”, bentaknya.


“Y..Ya itu teh... Pokoknya minta maaf, jangan aduin ke bapa”, pintaku.


“Teteh tetep aduin!”, tegasnya.


Aku memohon kepadanya sambil memegang tanganya. Dengan sigap dia langsung melepaskan tanganku. “Lepasin! Jangan pegang teteh sama tangan kamu yang jijik itu!”, marahnya sambil menunjuk wajahku. “Pokoknya liat aja nanti kalau mamah sama papah dateng, biar tau rasa kamu, bandel sih!”, sambungnya.


Dia kemudian memakai kerudung syar’i dan kacamatanya itu dan pergi keluar rumah, meninggalkan aku sendiri dengan rasa bersalahku.


“Kok jadi gini...”, kesalku dalam hati.


Aku tidak menyangka masalahnya akan menjadi seperti ini. Aku pikir aku tidak akan ketahuan karena selama ini, setiap kali aku coli, tidak ada masalah sama ekali. Hanya karena satu kecerobohan kecilku yang lupa mengunci pintu, semuanya menjadi berantakan. Terlebih ini menyangkut keluargaku. Aku coli menggunakan kakakku sebagai bahan fantasiku. Benar benar rasanya seperti dijatuhi pasal berlapis.


Baru kali ini aku merasa menyesal telah melakukan hal yang menyimpang dari agama.


“Sekarang gimana nih ya?... Kabur aja kali dari rumah?”, kataku.


Aku berniat untuk kabur dari dalam rumah pada saat itu, namun aku tidak tau harus kabur kemana. Atau aku terima saja takdirku? Dua duanya bukanlah hal yang baik. “Agghhh pusing “, kesalku.


Akupun berjalan kembali menuju kamarku sambil menggaruk garuk kepala, meskipun kepalaku tidak gatal sama sekali. Dengan segera, aku mengunci pintu kamarku dan berbaring di kasur, memabayangkan tentang apa yang sudah aku lakukan hari ini. “AH BEGO BAGET TAI!!!!”, teriakku.


Lagi lagi, kalau saja aku tidak ceroboh, aku bisa menikmati fantasi dengan kakakku yang saat itu belum selesai. Aku memejalmkan mataku dan menghirup nafas dalam dalam kemudian membuangnya perlahan lahan dari mulutku. Menyadari betapa sampahnya diriku membuatku merasa tidak pantas berada di keluarga yang agamis ini. keluarga ini sangat suci untuk diriku yang penuh dosa.


Semakin dipikirkan, justru aku semakin kesal.


“Ini semua gara gara teteh sih! Apaan sih ngetuk bukanya salam dulu kek kayak gapunya agama aja! Aku ewe coba, biar mampus!”, kesalku sambil memukul mukul bantal. Selang beberapa detik aku kembali tenang dan mulai membayangkan banyak hal,


Salah satunya adalah betapa indahnya tubuh telanjang kakakku itu. “Lah lah kenapa aku malah jadi bayangin itu sih, momentnya gak tepat banget”, gumamku yang menertawakan kebodohan pikiranku yang sudah rusak ini.


Namun aku tidak menolak pemikiran seperti itu. Perlahan kontolku kembali berdiri dan mengeras. Tidak menolak keinginan adik kecilku ini untuk dikocok, aku kemudian berdiri dan mengambil salah satu foto half body kakakku yang terpampang di dinding ruangan keluarga dan menaruhnya di meja belajarku. Dengan segera, aku melanjutkan fantasiku tadi yang sepat terpotong. Aku kembali mengocok kontol besarku ini menggunakan foto kakakku.


“Lu makan nih ya... Mffhh... Ssshh”, desahku sambil membayangkan aku memaksa masuk kontolku ini kedalam mulutnya. Membayangkanya saja sudah sangat nikmat. Membuatku melupakan apa yang baru saja terjadi. Padahal posisiku sebagai anak dalam keluarga ini sedang terancam, tapi kenapa aku masih sempat sempatnya coli menggunakan foto kakakku ini?


Ah persetan, aku benar benar sudah tidak peduli.


Aku mempercepat kecepatan kocokanku hingga aku sudah mencapai batasku. Aku kemudian mengarahkan moncong meriamku itu kearah foto kakakku sambil membayangkan aku menyemprotkan lahar panas ini ke muka dan kerudungnya. “SSHHH!!! AAHHH!!! MAKAN NIHH ANJIN*!!!”, Teriak kepuasanku.


*Crooottt crooottt*


Semuanya tepat sasaran. Semua pejuhku tertembak ke foto itu tanpa satupun yang meleset. Aku harap aku benar benar bisa menghukumnya dengan hal seperti ini, bedanya aku arahkan ke wajahnya yang asli, bukan foto lagi.


Ejakulasi seperti ini membuat pikiranku sedikit tenang. Aku kemudian terbaring di kasur kemudian memejamkan mataku.


“Besok ya besok, aku tidak peduli”, gumamku. Sebelum aku memejalmakn mata dan tertidur, aku menerima pesan dari ibuku yang mengatakan bahwa besok dia akan pulang.


Aku sudah tidak peduli lagi, jadi aku abaikan dan tertidur.

Friday, 22 January 2021

CERITA SEX : CINTA YANG TABU BAB : 1

Namaku Ilham, umurku dua puluh satu tahun tahun. Aku tinggal Bersama keluargaku yang menjalani kehidupanya sebagai keluarga yang agamis. Segala hal yang kami lakukan sangat erat sekali hubunganya dengan agama yang kita yakini. Terkadang, aku merasa bosan dan terkekang dengan aturan aturan yang harus dipatuhi didalam keluargaku ini, jadi aku memilih untuk menjadi anak yang taat dirumah, namun bandel diluar. Memang agak merepotkan, tapi itu merupakan hal yang aku lakukan untuk mendapatkan kepuasan serta kesenangan dalam hidupku.


Sebenarnya, terkadang didalam rumah pun aku melakukan hal yang terlarang. Disaat malam hari dimana keluargaku tertidur, aku sering menonton film porno dan melakukan onani disaat yang bersamaan. Beruntungnya sejauh ini aku tidak pernah ketahuan melakukan itu, jadi sampai saat ini aku masih melakukanya.


Aku memiliki kakak perempuan bernama Rifa. Umurnya dua puluh delapan tahun, namun terkadang tingkah lakuknya seperti anak kecil. Dia merupakan pribadi yang pendiam, tenang, anggun dan sudah pasti taat terhadap agama. Dia sangat jauh dengan dunia pergaulan sosial yang terjadi diluar rumah kami. Banyak yang mengatakan karena keanggunannya, dia terlihat sangat cantik dan mempesona. Memang harus aku akui demikian sih. Kulit tubuhnya putih, dia lumayan tinggi, sekitar 162cm, tubuhnya ramping namun sangat menggoda. Dadanya memang tidak terlalu besar, ukuranya pas dengan genggaman tangan, dan pantatnya pun tidak terlalu menonjol, namun berisi.


 


Jujur aku sama sekali tidak melihat ketertarikan dalam kakakku, karena pada dasarnya, aku anak yang normal dan tidak memiliki rasa terhadap kakak kandungku sendiri. Lagipula, kakakku kabarnya mau menikah dengan seorang cowok teman kampusnya dulu yang lumayan kaya dan siap membiayai semua kebutuhan yang diperlukan nanti.


Pagi hari seperti biasa dimulai. Ayah dan ibuku pergi kerja sementara kakak akan berangkat bekerja sebagai guru mengaji. Aku yang kebetulan masih menjalani libur semester harus menjaga rumah sendirian. Kesempatan yang menarik untuk menonton porno dan onani lagi. “Dek, jaga rumah ya, jangan macem macem”, ujar kakakku sebelum berangkat. “Iya, bawel, sana berangkat”, jawabku. Dengan diakhirinya percakapan singkat kami, kakakku pun akhirnya berangkat bekerja. Sekitar sepuluh menit setelah semuanya berangkat dari rumah, pacarnya kakakku dating dengan membawa motor. Dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Aku yang sedang menjaga rumah kemudian membukakan pintu untuknya.


“Eh, abang Kharis, napa bang?”, tanyaku.


“Eh, ham, teteh udah berangkat?”, jawabnya yang disambung dengan pertanyaan.


“Iya, barusan banget, ini juga dirumah kosong, Ilham jaga rumah sendirian”, cetusku sambil tertawa kecil.


Perlu diketahui juga, bang kharis, merupakan calon suami dari kakakku dan satu satunya orang yang mengetahui kalau sebenarnya aku ini merupakan anak yang nakal walaupun terlahir dalam keluarga yang agamis. Dia orang yang tau kalau aku sering menonton film porno dan onani, namun dia sangat pengertian karena dia memahami situasiku seperti apa.


“Weh beruntung banget dirumah sendiri, mau notnon koleksi film porno yak?”, sahutnya sambil tertawa.


“Wadooh ketauan nih”, jawabku


“Saran abang mah ya, coba lu kalo mau coli, bayangin temen temenlu, jangan nonton film porno mulu, bule bule jepang atau amerika gitu mah gaakan ada di kita, mending bayangin temen sekolahlu atau siapa kek kalo coli”, cetusnya sambal emmakai helmnya kembali dan menyalakan motor, bersiap untuk berangkat.


“hmm, ntar deh ilham pikirin lagi, thanks Saranya bang”, sambungku.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, dia langsung pergi sementara aku menutup pintu dan kembali masuk kedalam rumah. “Kalau dipikir pikir, iya juga ya, aku coba coliin siapaa gitu temenku, tapi gapunya fotonya, gimana ya...”, ujarku dalam hati.


Seketika aku terbesit pikiran “Gimana kalo aku coliin teteh aja ya? Kayaknya enak gitu genre incest, sister gitu”. Nafasku mulai tidak teratur, nafsu seks ku mulai meningkat, detak jantungku mulai berdetak tidak karuan. Kalua dipikir piker, aku memiliki kakak tercantik yang pernah ada dengan badan idela yang dimilikinya, kenapa aku tidak coli daridulu ya?


Sudah aku putuskan, aku akan onani dengan fantasi kakaku sendiri sebagai objeknya. Namun aku memerlukan bahan, dari foto saja tidak cukup, aku perlu bahan yang lebih kuat untuk meningkatkan nafsuku. “Oh iya, celana dalem”. Berhubung kamar kakakku tidak dikunci, aku coba terobos masuk saja dan langsung mengincar lemari pakaian milik kakakku.


Tak lama setelah mencari, aku menemukan bagian lemari yang penuh dengan celana dalam kakakku. Meliat variatif warna dan bentuknya saja sudah membuatku berpikiran yang macam macam. Aku kemudian mengambil satu yang paling atas dan langsung mengendusnya dalam dalam.


“Mmmhhffhhh, bau memeknya teteh”, ujarku sambil terus mengendus. Aku kemudian membuka celanaku dan langsung mengocok kontolku yang sudah keras itu sambil terus membayangi tetehku sebagai bahan imajinasiku.


Membayangkan aku dan kakakku sedang melakukan sex.


Tak lama kemudian, aku pun mencapai klimaksku. Kutumpahkan pejuku kedalam celana dalam milik kakakku ini tanpa pikir panjang. Sejenak aku terduduk dan menghela nafas kemudian kembali berfikir bahwa sepertinya akan terasa sangat nikmat jika aku bisa bercinta dengan kakakku itu. Semakin aku membayangkanya, semakin aku ingin meniduri tubuhnya yang terbalut dengan pakaian suci itu.


“Nah sekarang mau aku apain nih celana dalem, kalo dicuci bakal ketauan ga ya? Simpen aja deh”, ujarku sambil menyembunyikan celana dalam kakak yang penuh dengan peju ku dibawah kasurku. Sungguh, aku sama sekali tidak merasa berdosa telah menggunakan kakakku yang suci itu sebagai imajinasi bacolku. Aku tidak peduli sama sekali.


Siang itu mendung, langit sudah dipenuhi awan gelap dan sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Disaat ayng bersamaan juga aku mendapatkan pesan dari kedua orang tuaku bahwa mereka hari ini tidak akan pulang karena ada urusan bisnis keluarga.


Jadi untuk semalaman ini, hanya akan ada aku dan kakakku saja dirumah.


Dahulu, kita memang sering ditinggal berdua begini, namun untuk kali ini terasa cukup berbeda. Perbedaanya kali ini adalah aku yang sedang dalam kondisi sangat terangsang dengan kakakku sendiri. Sejenak aku berfikir untuk meniduri kakakku malam ini, dengan cara paksa pun tidak apa apa. Hujan deras pun turun diiringi dengan suara petir yang terus terusan terdengar.


Selagi aku membuat rencana, kakakku tiba tiba datang dengan kondisi kehujanan. Sekujur tubuhnya basa kuyup, dan akbiatnya lekukan tubuhnya pun terlihat dengan jelas meskipun terhadang dengan pakaian syar’i miliknya. “Woh, langsing dan seksi juga ya ternyata kakakku ini”, gumamku dalam hati.


“Ham, bapak sama mamah gak akan pulang hari ini, udah ngabarin kan?”, tanyanya sambil melepas sepatu.


“Iya udah. Teteh mandi gih, basah gitu, nanti sakit”, jawabku.


“Iya ini mau”, sambungnya.


Kesempatan yang bagus sekali, aku sudah menyiapkan lubang di dinding kamar mandi yang bisa aku intip langsung dari kamarku, karena memang kamar mandi keluarga kita dengan kamarku itu tepat bersebelahan. Sebenarnya aku menyiapkan lubang itu untuk suatu saat ketika teman teman wanitaku datang ke rumahku dan memakai kamar mandi itu,


Tapi siapa sangka sekarang aku malah menggunakanya untuk mengintip kakakku sendiri.


Tak lama kemudian, kakakku langsung masuk ke kamar mandi dan aku dengan cepat langsung masuk kedalam kamarku dan menempati posisi yang sudah kubolongi dindingnya. Tak berfikir panjang aku lagsung saja membuka celana beserta celana dalamku untuk bersiap mengocok kontolku yang sudah keras daritadi.


Perlahan ia mulai membuka bajunya yang basah terkena air hujan itu. “YA TUHAN”, sentaku dalam hati karena terkejut melihat betapa indahnya tubuh kakakku tanpa pakaian yang selalu menutupinya. “Sexy parah teteh ternyata”, seruku sambil pelan pelan mulai mengocok kontolku. Kakakku kemudian mulai membuka bra nya dan dua buah gunung yang tidak terlalu besar namun membuat sange itu pun terlihat dengan jelas. Sangat pas sekali ukuranya dengan genggaman tanganku, membuat aku ingin meremasnya dengan kedua tanganku ini. Kemudian dia berlanjut untuk membuka celana dalamnya.


Karena aku sangat penasaran bagaimana bentuk dari memek kakakku, nafasku mulai tidak teratur dibuatnya, tak terasa tangaku juga semakin cepat mengocok kontolku. Perlahan, dan akhirnya terlepas. Miss v kakakku yang masih suci itu pun terlihat dengan jelas. Terlihat sangat rapat dengan ditumbuhi rambut tipis di sekelilingnya. “AGHHH AKU UDAH GATAHAN”, kataku dalam hati. Detak jantungku semakin kencang dan tanganku semakin cepat. Aku mulai menolehkan pandanganku dari lubang itu dan mulai memejamkan mata untuk membayangkan melakukan sex dengan kakakku.


“Huhhh... Badanya teteh... Memeknya.... Susunya... Ngghh”, kataku sambil terus memejamkan mata dan mengocok.


Tak lama kemudian, pintu kamarku tiba tiba terbuka.


“Dek sabun habis, punya sab- KYAAAHHH!!!”, Ternyata kakakku dengan menggunakan handuk masuk secara tiba tiba. Sial, aku memalingkan mataku sebentar dari lubang itu ternyata dia tiba tiba keluar dan masuk ke dalam kamarku, dan aku lupa mengunci pintu. Yang lebih sialnya lagi, dia melihat aku coli.

Sunday, 9 October 2016

CERITA SEX : ANAK NAKAL SEASON 1 : BAB 6

Aku mulai membangun rumah sendiri, terlebih ketika Nur melahirkan anak
pertama kami yang imut dan lucu. Berjenis kelamin perempuan. Anaknya sangat
montok. Kami semua bahagia dan usia kehamilan Kak Vidia pun udah masuk ke
empat bulan, mulai kelihatan perutnya membuncit.

Aku bangun rumah sendiri untuk Kak Vidia, juga Nur. Walaupun tak begitu mewah
seperti rumah kami sekarang, tapi cukup untuk membangun rumah tangga di sini.
Posisinya juga tidak terlalu jauh, masih satu

CERITA SEX : ANAK NAKAL SEASON 1 : BAB 5

Kembali ke masa sekarang. Ketika usaha kami sudah menjadi waralaba. Mbak Juni
yang selama ini membantu kami pun jabatannya menjadi manajer yang mengelola
waralaba. Seiring besarnya toko kami, maka kehidupan mbak Juni pun mulai
berubah. Ia boleh dibilang sekarang jadi orang berduit dan sangat loyal kepada
kami. Ia jugalah yang mengawal kesuksesan keluarga kami hingga sekarang
waralaba kami sudah ada seratus toko tersebar di seluruh daerah.

Kabar gembira adalah ketika Nuraini hamil, kami sekeluarga sangat senang.
Bahkan bunda sangat mewanti-wanti agar Nur jangan banyak pekerjaan yang
melelahkan. Nuraini tahun ini lulus SMA, s